OLEH: MUH.KAHAR ARIFIN
Siswa Sekolah Demokrasi Jeneponto angkatan III
Tulisan ini mencoba mengajak kita memaknai demokrasi sebagai sesuatu yang luhur, damai tanpa anarkis. Demokrasi merupakan media untuk mengembalikan kedaulatan rakyat dan membangun system pemerintahan dari rakyat dan kembali ke rakyat.
Reformasi yang tadinya milik mahasiswa (pemuda) kini telah dikudeta oleh elit polotik. Disaat para mahasiswa berdarah-darah memperjuangkan aspirasi rakyat untuk menumbangkan sebuah rezim maka semakin jelas posisi elit dengan “jubah” aspirasi rakyat mengklaim bahwa ‘proses perubahan’ adalah produknya. Bukankah hal tersebut keliru?. Tak hanya sampai disitu saja, orang-orang yang sebelumnya memperjuangkan aspirasi rakyat ditrindas, dilibas sampai akhirnya sejarah tak mampu mengangkatnya dari kubangan lumpur hasil penghianatan oleh para elit.
Jelas hal tesebut merupakan pahatan proses demokrasi yang ada di Indonesia. Sangat ironi ketika kita berharap setets madu dari sepohon bunga dalam satu taman, namun telah direnggut oleh kumbang nakal yang melahap habis sampai bunga tersebut layu dan mati. Terkadang dalam memperjuangkan sebuah perubahan butuh pengorbanan dan disitulah nikmatnya ketika kita mampu memaknainya.
Demokrasi dan Perubahan
Saat ini, dalam masyarakat terjadi suatu kondisi dimana mental korup yang dimiliki oleh pejabat dan penyelenggaraan Negara sekarang juga melanda masyarakat. Sehingga untuk mencapai sebuah perubahan masih sangat jauh. Dalam memaknai perubahan itu tidak terlepas dari sebuah tujuan hidup masyarakat yaitu kesejahteraan, pendidikan, kesehatan dan segala hal yang menjadikan hidup masyarakat menjadi lebih baik. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah harus merakyat.
Pemuda dan Perubahan
Ketidakberhasilan kita dalam reformasi kemarin, karena adanya kudeta dari elit-elit politik. Namun hal itu wajar karenaa merupakan tataran pergulatan pemikiran. Gerakan kita memang belum sempurna sebagaimana gerakan partai politik. Dimana gerakan politik dituntun oleh flatform tertentu. Bahwa kearah mana cita-cita sebuah gerakan itu akan diwujudkan dalam bentuk sistematis melalui doktrin aturan dan strategi. Sementara gerakan pemudaa hanya bersifat moral dan ‘mengharamkan’ kekuasaan.
Dalam catatan sejarah, Indonesia paling kayaa akan proses untuk mencapai tujuan kemandirian bangsa. Mulai dari orde lama kemudian berganti orde baru dan ditumbangkan oleh reformasi yang lebih pada proses deformasi. Kemudian apalagi? Mungkin harus mulai dari titik nol, titik revolusi. Revolusi yang bukan hanya pada konteks pemerintahan. Namun, jelas dalam satu gerakan sinergiss yang menyatukan antara pemikir dan masyarakat luas. Karena bagaimanapun, sebuah cita-cita revolusi harus berdasarkan satu ide revolusi dan ide tersebut harus dating dari tengah-tengah masyarakat yang dirumuskan oleh seseorang yang dianggap sebagai pemimpin gerakan.
Hal lain yang penting untuk diperhatikan sebagai pegangan kearah perubahan menjadi jelas adalah visi dari sebuah gerakan yang harus menjadi gerakan sporadic yang membawa isu-isu yang tidak bisa mengikat seluruh masyarakat. Oleh karena itu, harus ada penyatuan isu dan hal tersebut bisa terjadi jika sudah ad penyatuan visi. Ki u’rangi sari’battang “Allah tak akan berubah suatu kaum kecuali dia sendiri yang ingin berubah”. Wallahu alam bissawab.