Suara rakyat suara tuhan. Suara rakyat hanya untuk jualan pencari kekuasaan. Betulkah ada rakyat di setiap pemilihan pemimpin, ataukah pemimpin itu adalah rakyat sendiri. Ya, keduanya betul. Rakyat ada sebagai kekuatan penambah suara, semakin banyak yang memilih semakin jelas siapa pemimpin yang akan diusungnya menduduki kursi panas di Jeneponto. Tapi apakah pemimpin yang juga rakyat itu, mempunyai jiwa kerakyatan ataukah hanya pemanis bibir saja. Jadi kalau begitu, antara rakyat, kekuasaan dan pemimpin punya hubungan yang tidak saling menyapa.
Rakyat selalu dikonotasikan sebagai penyokong pendapatan pejabat saja, dan mungkin tidak lebih. Rakyat selalu berada dalam posisi bawah, bukannya setara dengan pemimpinnya yang nota bene juga lahir dari rakyat. Jika begitu, dimanakah letak kekuasaan itu berada. Betulkah rakyat pemegang kekuasaan atau hanya pelipur lara semata. Dan kekuasaan akan selamanya menjadi tangan kanan penguasa.
Kekuasaan rakyat dialihkan dalam bilik-bilik suara. Ketika rakyat berpartisipasi dalam pemilihan, berarti rakyat siap memindahkan kekuasaannya kepada seseorang yang belum tentu terjamin kepemimpinannya. Bila rakyat sadar akan itu, justru cenderung dimanupulasi dengan tindakan kotor money politic, peradangan konflik dan penggelembungan suara. Jadi siapakah yang siap menjamin, ketika kekuasaan lewat bilik suara yang berpindah tangan ke penguasa akan dijalankan secara jujur.
Kejujuran adalah sebuah ketidak yakinan itu sendiri, ketika tidak dibuktikan dengan tindakan riil. Rakyat tidak butuh janji, tapi bukti. Program tidak hanya terlontar di mulut, tapi terlontar dalam wujud pendidikan pembebasan, kesehatan yang menyehatkan, tak ada lagi kemiskinan dan pembodohan. Tapi apakah itu bisa dijamin bakal terlaksana. Kalau begitu kemanakah rakyat harus menagih janjinya, ataukah itu hanya sebuah system yang tidak akomodatif.
Lagi-lagi kita harus berbicara system, ketika janji politik tidak terealisasi. Butuhkah kita sebuah pernyataan bersama yang dituangkan dalam kontrak kerja. Ataukah, ini bakal menjadi boomerang bagi pemimpin, ketika tidak sanggup merealisasikan janjinya siap di a’jallo oleh rakyat. Mungkin kita masih teringat bersama, tradisi ini berhasil membunuh seorang raja lalim di Sul-Sel yang tidak memperhatikan rakyatnya. Apakah demokrasi mau menampung budaya a’jallo ini, pemimpin siap mati di depan rakyat ketika tidak mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Jaminannya, pejabat pasti tak akan mau melalukan itu, sebab pejabat hari ini telah dominant kehilangan mukannya.
Pemimpin yang kehilangan muka, pertanda kacau pemerintahan dan amburadullah rakyat. Ciri terpenting setiap calon pemimpin, ketika meneriakkan perubahan tapi tidak mau menerima ikatan janji dengan rakyat. Ataukah para pemimpin kita banci, alias pecundang yang tak mau melihat rakyat ini maju dan hanya mau mengambil keuntungan dengan tetap menjaga keadaan dalam kondisi status qou. Masih percayakah kita dengan pemimpin hari ini?
Pilkada Jeneponto
Kali pertama rakyat Jeneponto akan memilih pemimpinya sendiri secara langsung. Lewat jalur pilkada daerah, rakyat diminta partisipasinya mau menusuk kumis, tailalat atapun jenggot sang calon pemimpin. Mungkin inilah saatnya sang calon pemimpin tidak marah bila fotonya ditusuk, padahal bila mereka nanti berkuasa belum tentu ada jaminan rakyat yang demo dan menusuk foto sang bupati terpilih akan selamat jiwanya. Biasanya yang terjadi, pemimpin itu geram dan balik menusuk rakyatnya yang telah memilihnya. Tinggallah kematian komunal terhadap rakyat karena sang pemimpin balik menusuk.
Sehingga tidak ada kata lain, rakyat harus membangun kekuatan oposisi. Membiarkan penguasa mengatur daerah tapi tetap dikeritisi, didemoi hingga meminta turun ketika tidak ada lagi kemakmuran, kemiskinan merajalela dan rakyat kehilangan topangan hidup. Saatnya rakyat bangkti, lewat kekuatan lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi agama dan kaum feminisme yang tergabung dalam kelompok penggerak PKK dan arisan. Semua adalah kekuatan potensi rakyat yang harus di optimalkan, ketika pemerintah telah berkoalisi untuk menghisap rakyat.
Muhammad Sirul Haq
Sekolah Demokrasi Jeneponto angkatan III
2 komentar:
good luck for DMM Jeneponto..................
......................
semangat
dimana pelaksanaan sekolah demokrasinya di jeneponto???
usman ali
Posting Komentar